KEBUTUHAN-KEBUTUHAN ORANG DEWASA

Posted on Updated on

Apa dorongan orang dewasa melakukan suatu aktivitas? Pertanyaan ini cukup mendasar untuk dikaji melalui teori tentang kebutuhan. Pertanyaan itu kemudian memunculkan jawaban dengan adanya teori biologis (biogenic theories ) dan teori sosiologis (sosiogenetic theories ). Teori biologis adalah teori yang menyangkut proses biologis, lebih menekankan pada mekanisme pembawaan biologis, seperti insting dan kebutuhan-kebutuhan biologis. Sedangkan teori sosiologis adalah suatu teori yang lebih menekankan pada pengaruh kebudayaan atau kehidupan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa orang dewasa melakukan aktivitas karena didorong oleh adanya faktor-faktor biologis serta adanya pengaruh perkembangan budaya manusia.

Setiap orang dewasa mempunyai kebutuhan-kebutuhan yang pemunculannya sangat bergantung pada kepentingan orang dewasa tersebut. Berkenaan dengan ini, Maslow mengajukan need hierarchy theory  untuk menjawab pertanyaan yang berkaitan dengan tingkat kebutuhan orang dewasa. Menurut Maslow, kebutuhan-kebutuhan orang dewasa dapat digolongkan kedalam lima tingkatan. Adapun kelima tingkatan tersebut adalah sebagai berikut :

  1. Kebutuhan yang bersifat biologis;
  2.  Kebutuhan rasa aman;
  3. Kebutuhan-kebutuhan sosial;
  4. Kebutuhan akan harga diri;
  5. Kebutuhan untuk berbuat yang terbaik.

Kebutuhan orang dewasa tersebut bersifat dinamis. Artinya, kebutuhan tersebut berubah-ubah sesuai dengan sifat kehidupan manusia itu sendiri. Sesuatu yang menarik, diinginkan dan dibutuhkannya pada suatu saat tertentu, mungkin tidak lagi menarik dan tidak dihiraukan lagi, pada waktu lain.

Apabila Maslow mengemukakan lima kebutuhan manusia, Morgan menyatakan bahwa orang dewasa memiliki empat kebutuhan. Berikut ini dijelaskan keempat kebutuhan orang dewasa menurut Morgan :

  1. Kebutuhan untuk melakukan suatu aktivitas. Hal ini sangat penting bagi orang dewasa karena suatu aktivitas mengandung suatu kegembiraan baginya.
  2. Kebutuhan untuk menyenangkan orang lain. Banyak orang dewasa yang dalam kehidupannya memiliki motivasi untuk banyak berbuat sesuatu demi kesenangan orang lain. Harga diri seseorang dapat dinilai dari berhasil tidaknya usaha memberikan kesenangan pada orang lain. Hal ini sudah barang tentu merupakan kepuasan dan kebahagian tersendiri bagi orang yang melakukan kegiatan tersebut.
  3. Kebutuhan untuk mencapai hasil. Suatu pekerjaan itu akan berhasil baik, kalau hasilnya mendapat “pujian”. Aspek pujian ini merupakan dorongan bagi orang dewasa untuk bekerja dengan giat. Apabila hasil pekerjaan itu tidak dihiraukan orang lain, motivasi orang dewasa untuk melakukan pekerjaan tersebut akan berkurang. Oleh karena itu, orang dewasa harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk melakukan sesuatu dengan hasil yang optimal sehingga memiliki rasa sukses.
  4. Kebutuhan untuk mengatasi kesulitan. Suatu kesulitan atau hambatan, mungkin menimbulkan rasa rendah diri pada orang dewasa, tetapi hal ini dapat menjadi dorongan untuk mencari konpensasi dengan usaha yang tekun dan luar biasa, sehinggah tercapai kelebihan atau keunggulan dalam bidang tertentu.

Apabila Maslow mengemukakan 5 kebutuhan orang dewasa dan Morgan mengemukakan 4 kebutuhan orang dewasa, menurut Murray dan Edwards mengungkapakn 15 aspek kebutuhan orang dewasa. Berikut ini dijelaskan kelimabelas aspek kebutuhan tersebut :

  1. Kebutukan berprestasi mengacu pada dorongan untuk mencapai hasil sebaik mungkin, melaksanakan tugas yang sangat berarti, mengerjakan pekerjaan yang sulit sebaik mungkin, menyelesaikan masalah yang rumit dan menjelaskan sesuatu lebih baik dari yang lain.
  2. Kebutuhan rasa hormat (deference ). Kebutuhan rasa hormat mengacu pada dorongan untuk mendapat pengaruh dari orang lain, menemukan apa yang diharapkan orang lain, mengikuti perintah dan apa yang diharapkan orang lain, memberikan hadiah kepada orang lain, memuji hasil pekerjaan orang lain, menerima kepemimpinan orang lain, menyesuaikan diri pada kebiasaan dan menghindari hal-hal yang tidak biasa, serta menyerahkan kepada orang lain untuk mengambil keputusan.
  3. Kebutuhan keteraturan (ordere ). kebutuhan ini mengacu pada dorongan untuk melakukan pekerjaan secara rapi dan teratur, membuat rencana sebelum memulai tugas yang sulit, menunjukkan keteraturan dalam berbagai hal, serta memelihara segala sesuatu agar tetap rapi dan teratur.
  4. Kebutuhan memperlihatkan diri (exhibition ). Kebutuhan ini mengacu pada dorongan untuk memperlihatkan diri agar menjadi pusat perhatian orang, menceritakan keberhasilan diri, menggunakan kata-kata yang tidak dipahami orang lain, bertanya yang tidak akan terjawab orang lain, membicarakan pengalaman diri yang membahayakan, dan menceritakan hal-hal yang menggelikan.
  5. Kebutuhan otonomi (autonomy ). Kebutuhan otonomi mengacu pada dorongan untuk menyatakan kabebasan diri dalam berbuat atau mengatakan apa pun, bebas mengambil keputusan, melakukan sesuatu yang tidak dapat dilakukan orang lain, serta menghindari pendapat orang lain.
  6. Kebutuhan afiliasi (affiliation ). Kebutuhan ini mengacu pada dorongan untuk setia kawan, berpartisipasi dalam kelompok kawan, mengerjakan sesuatu untuk kawan, membentuk persahabatan baru, membantu kawan sebanyak mungkin, serta menjalankan pekerjaan bersama-sama, akrab dengan kawan.
  7. Kebutuhan intrasepsi (intraception ). Kebutuhan ini mengacu pada dorongan untuk menganalisis motif dan perasaan sendiri, mengamati orang lain dan memahami perasaan orang lain, menempatkan diri ditempat orang lain, menilai orang lain dengan mencoba memahami latar belakang tingkah lakunya dan bukan apa yang dilakukannya, menganalisis perilaku orang lain, menganalisis motif-motif perilaku orang lain, dan menafsirkan apa yang bakal dilakukan orang lain.
  8. Kebutuhan berlindung (succorance ). Kebutuhan ini mengacu pada dorongan untuk memperoleh bantuan orang lain apabila mendapat kesulitan, mencari dukungan dari orang lain, memahami masalah pribadinya, menerima belaian kasih sayang orang lain, mengharapkan bantuan orang lain disaat tertekan, dan mengharapkan maaf dari orang lain apabila sakit.
  9. Kebutuhan dominan (dominance ). Kebutuhan ini mengacu pada dorongan untuk membantah pendapat orang lain, ingin menjadi pemimpin kelompok, mengambil keputusan dengan mengatas namakan kelompok, menetepkan persetujuan secara sepihak, membujuk dan mempengaruhi orang lain agar mau mengerjakan yang ia inginkan, mengawasi dan mengarhkan kegiatan yang lain, dan mendiktekan apa yang harus dikerjakan oramg lain.
  10. Kebutuhan merendah (abasement ). Kebutuhan ini mengacu pada dorongan untuk mengakui berdosa apabila berbuat keliru, menerima cercaan atau celaan orang lain, merasa perlu mendapat hukuman apabila berbuat keliru, menghindar dari perkelahian, mengakui akan kekeliruannya, dan merasa rendah diri dalam berhadapan dengan orang lain.
  11. Kebutuhan memberi bantuan (nurturance ). Kebutuhan ini mengacu pada dorongan untuk menolong kawan yang kesulitan, membantu yang kurang beruntung, memperlakukan orang lain dengan baik dan simpatik, memaafkan orang lain, menyenangkan orang lain, berbaik hati pada orang lain, memberikan simpati kepada yang terluka atau sakit serta memperlihatkan kasih sayang kepada orang lain.
  12. Kebutuhan perubahan (change ). Kebutuhan ini mengacu pada dorongan untuk menggarap hal-hal yang baru, berkelana, menemui kawan baru, mengalami peristiwa baru dan berubah dari pekerjaan yang rutin, makan ditempat yang berbeda-beda, mencoba berbagai jenis pekerjaan, senang berpindah-pindah tempat, serta berpartisipasi dalam kebiasaan baru.
  13. Kebutuhan ketekunan (endurance ). Kebutuhan ini mengacu pada dorongan untuk bertahan pada suatu pekerjaan hinggah selesai, merampungkan pekerjaan yang telah dipegangnya, bekerja keras pada suatu tugas tertentu, bertahan pada penyelesaian masalah atau teka-teki, bertahan pada suatu pekerjaan dan tidak akan beralih sebelum selesai, tidur larut malam untuk menyelesaikan pekerjaan yang dihadapinya, tekun menghadapi pekerjaan tanpa menyimpang, serta menghindari segala yang dapat menyimpangkannya dari tugas lain.
  14. Kebutuhan heteroseksualitas (heterosexuality ). Kebutuhan ini mengacu pada dorongan untuk bepergian dengan kelompok yang berlawanan jenis kelamin, melibatkan diri dalam kegiatan sosial yang berlawanan jenis kelamin, jatuh cinta kepada jenis kelamin yang lain, mengagumi bentuk tubuh jenis kelamin lain, berpartisipasi dalam diskusi tentang seks, membaca buku dan bermain yang melibatkan masalah seks, serta mendengarkan atau menyampaikan cerita lucu tentang seks.
  15. Kebutuhan agresi (aggression ). Kebutuhan ini mengacu pada dorongan untuk menyerang pandangan yang berbeda, menyampaikan pandangannya tentang jalan pikiran orang lain, mengecam orang lain secara terbuka, mempermainkan orang lain, serta melukai perasaan orang lain.

Kebutuhan-kebutuhan orang dewasa tersebut merupakan perpaduan antara kebutuhan yang bersumber pada dirinya dan tuntutan lingkungannya.

Dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan tersebut, orang dewasa dituntut untuk mampu melaksanakan tugas-tugas perkembangan sehinggah mereka dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

Berikut ini adalah tugas-tugas perkembangan masa dewasa:

Tugas-tugas perkempangan masa dewasa/muda : Mengembangkan sikap wawasan dan pengalaman nilai-nilai agama,Memperoleh atau memulai suatu pekerjaan,Memilih pasangan,Mulai memasuki pernikahan,Belajar hidup berkeluarga,Mengasuh dan mendidik anak,Mengelolah rumah tangga,Memperoleh kemampuan dan kemantapan karier,Memanggil tanggung jawab atau peran sebagai warga masyarakat,Mencari kelompok sosial yang menyenangkan.

Tugas-tugas perkembangan  masa dewasa madya : Memantapkan pengalaman nilai-nilai agama,Mencapai tanggung jawab sosial sebagai warga Negara,Membantu anak yang sudah remaja untuk belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan bahagia,Menerima dan menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan yang terjadi pada aspek fisik  (penurunan kemampuan atau fungsi),Memantapkan keharmonisan hidup berkeluarga,Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karier,Memantapkan peran-perannya sebagai orang dewasa.

Tugas-tugas perkembangan pada masa dewasa lanjut (masa tua) : Lebih memantapkan diri dalam mengamalkan norma atau ajaran agama,Mempu menyesuaikan diri dengan menurunnya kemampuan fisik dan kesehatan,Menyesuaikan diri dengan masa pension dan berkurangnya penghasilan keluarga,Menyesuaikan diri dangan kematian pasangan hidup,Membentuk hubungan dengan orang lain yang seusia,Memantapkan  hubungan yang lebih harmonis dengan anggota keluarga (anak, menantu, dan cucu).

Tugas-tugas perkembangan itu tadi pada dasarnya merupakan tuntutan atau harapan-harapan sosial-kultural dimana manusia itu hidup. Dalam masyarakat kita, sejak dahulu hinggah kini tetap memiliki harapan seperti diatas, sebagai sebagian penentu status sebagai orang dewasa.

Khusus mengenai hidip berkeluarga dalam masa dewasa, terdapat dua hal pokok yang mendorong terciptanya hubungan hidup berkeluarga. Kebutuhan individu pada suatu pihak dan tugas perkembangan pada lain pihak. Pemandu antara keduanya menimbulkan energi yang membangkitkan gerak bagi individu-individu orang dewasa untuk bersatu dalam suatu jalinan hubungan berkeluarga.

Diantara kebutuhan utama dan kuat mendorong individu orang dewasa untuk hidup berkeluarga adalah kebutuhan material, kebutuhan seksual, dan kebutuhan psikologis. Tetapai dari segi psikologis, kebutuhan utama dan terkuat untuk berkeluarga bagi orang dewasa adalah kebutuhan akan cinta, rasa aman, pangakuan dan persahabatan.

Semoga materi ini dapat bermanfaat bagi anda

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s