DASAR-DASAR PEMBELAJARAN MATEMATIKA I

Posted on Updated on

DASAR-DASAR PEMBELAJARAN MATEMATIKA

BAGIAN 1: PENDAHULUAN

Sampai sekarang, dunia pendidikan pendidikan matematika masih memiliki berbagai masalah. Dua masalah yang amat besar dan amat penting adalah sebagai berikut:

  1. Sampai sekarang, pelajaran matematika di sekolah masih dianggap merupakan pelajaran yang menakutkan bagi banyak siswa, karena bagi banyak siswa pelajaran matematika terasa sukar, bahkan tidak menarik.
  2. Sekalipun dalam banyak kesempatan sering dikatakan bahwa matematika merupakan ilmu yang sangat berguna bagi kehidupan manusia termasuk bagi kehidupan sehari-hari, akan tetapi banyak orang yang belum bisa merasakan manfaat matematika tersebut, diluar beberapa cabang matematika tertentu yang memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis seperti berhitung, statistika dan geometri.

Karena adanya dua hal tersebut, banyak siswa menjadi kurang termotivasi dalam mempelajari matematika. Selain itu, adanya dua masalah tersebut juga menyebabkan pendidikan matematika di sekolah kurang memberikan sumbangan yang berarti bagi pendidikan anak secara keseluruhan, baik bagi pengembangan kemampuan berpikir, bagi pembentukan sikap, maupun pengembangan kepribadian secara keseluruhan. Sebagai contoh dalam bidang kemampuan berpikir kreatif atau meningkatkan kemampuan memecahkan masalah, yang banyak diperlukan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam bidang pembentukan sikap, pendidikan di sekolah belum bisa menumbuhkan sikap menghargai matematika sebagai ilmu yang sangat berguna bagi umat manusia pada diri para siswa. Dalam bidang pengembangan kepribadian, pendidikan matematika di sekolah belum mampu mengembangkan pribadi-pribadi siswa menjadi pribadi-pribadi yang mampu mengambil keputusan mengenai apa yang paling baik bagi dirinya, bersifat jujur, dan berani bertanggung jawab terhadap segala hal yang telah dilakukan atau diucapkan. Sehingga banyak siswa menempuh pelajaran matematika hanya karena diharuskan oleh sistem yang ada, sesuai dengan kurikulum.Dengan situasi seperti itu, pendidikan matematika di sekolah dan pendidikan formal pada umumnya cenderung menghasilkan lulusan yang mempunyai banyak pengetahuan tetapi kurang/miskin dalam kemampuan berpikir, dan miskin dalam hal kepribadian termasuk berjiwa penakut, kurang berani mengambil keputusan.

Padahal dalam dunia yang semakin maju ini, pada diri setiap orang semakin dituntut adanya kemampuan berpikir yang tinggi dan kreatif, kepribadian yang jujur dan mandiri dan sikap responsif terhadap perkembangan-perkembangan yang terjadi dalam lingkungan atau dalam masyarakat. Hal ini berlaku di banyak Negara, termasuk Indonesia. Terlebih dalam era sekarang ini, dimana demokrasi, hak hak asasi manusia, dan otonomi dalam berbagai tataran (individu, kelompok, masyarakat, dan daerah) semakin dianggap penting.

Yang menjadi pertanyaan adalah apa yang perlu dilakukan agar pembelajaran matematika di sekolah dapat memotivasi siswa untuk belajar matematika dan mampu mendidik para siswa sehingga mereka bisa tumbuh menjadi orang-orang yang mampu berpikir secara mandiri dan kreatif, berkepribadian mandiri dan mempunyai kemampuan dan keberanian dalam menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan mereka? Jika pembelajaran matematika di sekolah-sekolah kita dapat mengupayakan terbentuknya siswa dengan karakteristik seperti itu, berarti pembelajaran matematika di sekolah-sekolah kita telah memberikan sumbangan yang besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

Kalau dicermati secara seksama, nampak bahwa pada kurikulum tahun 1994 dan kurikulum sebelumnya, tujuan pendidikan matematika yang diarahkan bagi perkembangan potensi siswa secara keseluruhan belum dirancang secara sengaja. Artinya, pengembangan kemampuan berpikir, pembentukan sikap, pengembangan kepribadian termasuk pengembangan kecakapan hidup belum dipersiapkan secara terencana dalam pembelajaran yang terjadi di kelas. Jadi, tidak dapat dipungkiri bahwa dengan situasi tersebut, pendidikan matematika di sekolah cenderung menghasilkan lulusan yang mempunyai banyak pengetahuan tetapi kurang atau miskin dalam kemampuan berpikir, dan miskin dalam hal kepribadian termasuk berjiwa penakut, kurang berani mengambil keputusan.

BAGIAN 2

KARAKTERISTIK DAN POTENSI MATEMATIKA SEKOLAH

 

Agar pembelajaran matematika di sekolah dapat memenuhi tuntutan inovasi pendidikan pada umumnya, Ebbut dan Stratker (1995) mendefenisikan matematika sekolah, sebagai berikut:

  1. Matematika adalah kegiatan penelusursan pola dan hubungan.
  2. Matematika adalah kreatifitas yang memerlukan imajinasi, intuisi dan penemuan.
  3. Matematika adalah kegiatan problem solving.
  4. Matematika merupakan alat berkomunikasi

Sedangkan The Four Faces of Mathematics menurut Keith Delvin (2000) adalah:

  1. Mathematics as computation, formal reasoning, and problem solving.
  2. Mathematics as a way of knowing.
  3. Mathematics as a creative medium.
  4. 4.  Applications of Mathematics

 

CONTOH SOAL PROBLEM SOLVING

  • Ø Seorang pembeli masuk ke sebuah toko dan membeli sepasang sandal dengan harga . Ia membayar dengan selembar uang dua puluh ribuan. Pedagang kemudian memberinya sepasang sandal dan uang kembalian sebesar  .Beberapa saat setelah pembeli itu meninggalkan toko, pedagang baru menyadari kalau uang kertas duapuluh ribuannya ternyata palsu. Dan berdasarkan hukum yang berlaku, pedagang itu wajib melaporkan dan menyerahkan uang palsu tersebut kepada polisi. Karena pedagang itu tidak mau tersangkut dengan yang berwajib, ia pun menyerahkan uang palsu itu kepada polisi. Berapa kerugian yang ditanggung oleh pedagang dalam transaksi tersebut?

Ada tiga langkah kunci yang mesti dipahami dalam pemecahan masalah atau dalam menyelesaikan soal-soal penerapan matematika:

a)  Mengubah masalah dalam soal penerapan kedalam kalimat matematika. Langkah ini biasanya merupakan bagian yang paling menantang atau paling sulit dari soal penerapan. Kalau perlu dibuatkan suatu gambar atau diagram sebagai langkah awal yang dapat memudahkan. Catat sedetail mungkin informasi yang apa saja yang diberikan dalam soal itu dan beri label untuk semua kuantitas yang disebutkan dalam soal. Jika suatu kuantitas dalam soal bukan merupakan bilangan tertebtu, berikan nama dengan suatu variabel. Selanjutnya, identifikasi tujuan dari soal, apa yang diminta atau ditanyakan dari soal tersebut. Kemudian lengkapilah perubahan dari soal kedalam kalimat matematika, yaitu menemukan persamaan yang menggambarkan hubungan antara variabel dan menggambarkan tujuan dari soal secara sistematis.

b)  Selesaikan soal matematika yang telah dibuat dari langkah pertama dengan menggunakan keterampilan atau teknik yang dibutuhkan.

c)   Sebagai langkah akhir, kita harus mengubah jawaban dari soal matematika kembali kedalam kalimat atau kata-kata. Dengan demikian kita telah menyelesaikan soal penerapan.

  1. Sepuluh tahun yang lalu, umur Andi dua kali umur Budi, lima tahun kemudian umur Andi menjadi satu setengah kali umur Budi. Berapa umur Andi sekarang?
  2. Selembar seng berbentuk persegi panjang akan dibuat kotak tanpa tutup dengan cara membuang persegi seluas 2X2 di masing-masing pojoknya. Panjang kotak 4 cm lebih dari lebarnya dan volum kotak itu 90. Tentukan ukuran kotak tersebut.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s